Seruput Kejujuran di Kopi Sae

915
Dedi menjaga kepercayaan pelanggan dengan cara jujur menyajikan hanya kopi murni. Foto: Pras.
Dedi menjaga kepercayaan pelanggan dengan cara jujur menyajikan hanya kopi murni. Foto: Pras.

kopifirst.com, Letaknya di pasar modern, tidak besar, tapi justru keakraban gampang terjalin di kedai kopi ini. Kita bisa dengan enak menyapa pelanggan lain lalu ngobrol. Suasana hangat inilah yang membuat pelanggan kangen untuk datang lagi. Kebanyakan pelanggan juga tampak begitu akrab dengan pemiliknya, Dedi Hadiat.

Ketika dulu membeli kios itu, belum terpikir oleh Dedi mau digunakan untuk apa. Kios itu pun dibiarkan menganggur setahun. Kebetulan ia punya banyak teman yang berbisnis kopi. Atas saran mereka, ia pun membuka kedai Kopi Sae, walau awalnya ragu. “Saya ragu karena ini pasar bukan mal, masa buka kafe. Tapi dengan sedikit modifikasi jadilah seperti ini,” tutur pria asal Sukabumi ini.  

Semula di kedainya tersedia tak kurang dari 15 macam kopi dari seluruh pelosok Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Kopi luwak pun ada. Pelan-pelan ragam kopi itu berkurang dan kini tersedia hanya yang diminati pelanggan. Ada arabika Gayo, Toraja, Flores, robusta Sidikalang, juga black Gayo, dan Gayo blend.

Tidak Asal-asalan

Dedi punya resep racikan sendiri yang disukai pelanggan. Ia mengaku tidak pernah sekolah barista. Segala ilmu tentang kopi didapat dari teman-teman di komunitas kopi. “Yang penting kita jujur, jangan sembarangan, main campur kopi murni dengan kopi asal-asalan,” jelas pria yang hobi menembak dan main gitar ini. Kejujuran itu kunci untuk menjaga kualitas produk.

Demi kualitas juga Dedi senang berbagi pengetahuan dengan pelanggan. Pasalnya, tak jarang pelanggan membeli bubuk atau biji kopi untuk diseduh di rumah. Malah ada yang membeli grinder (alat penggiling kopi) darinya. “Saya kasih tahu cara menyimpan kopi dan menyeduh yang benar. Saya juga sarankan belinya sesuai kebutuhan. Kalau kelamaan disimpan kopi jadi kurang enak,” bebernya. Keterbukaan itu memuaskan pelanggan, yang kemudian merekomendasikan Kopi Sae ke teman, kerabat, dan lainnya. Itu sebabnya, meski tak pernah berpromosi, pelanggan Kopi Sae bertambah terus. 

Bagi Dedi, bertambahnya pelanggan berarti konsumsi kopi lokal meningkat. Jika dulu kopi lebih banyak digemari orang tua laki-laki, sekarang lelaki dan perempuan, usia 20an sampai lanjut usia mampir ke kedainya.   

Rata-rata pelanggan memilih kopi tubruk, pakai gula atau susu. Gula bisa dipilih gula putih atau gula palem. Juga tersedia kopi saring yang disajikan menggunakan French press. “Peminum kopi itu ada dua macam, penggemar dan penikmat,” ujar Dedi. Kalau penggemar, masih perlu gula dan ngopi sambil merokok. Sedangkan penikmat, minum kopi tanpa gula dan tidak perlu rokok. “Menikmatinya pelan-pelan, tapi bisa habis 2-3 cangkir”. Mantap!

Kopi Sae, Pasar Modern Bintaro KA-55, Tangerang Selatan.