Kopi, Napas Hidup Win Hasnawy

891
Win lebih tertarik untuk meningkatkan konsumsi kopi dalam negeri ketimbang ekspor. Foto: Pras.
Win lebih tertarik untuk meningkatkan konsumsi kopi dalam negeri ketimbang ekspor. Foto: Pras.

kopifirst.com, Lahir dalam keluarga petani kopi di Gayo, maka kopi sudah menjadi napas hidup Win Hasnawy. Pemilik Qertoev Coffee ini paham betul seluk beluk kopi dari hulu sampai hilir, dan ia tidak pelit berbagi ilmu. Siapa saja yang bertandang ke rumahnya, bakal betah mendengarkan sejuta cerita kopi dari dirinya.  

Win sedang menyangrai biji kopi Gayo di lantai bawah rumahnya, ketika kami datang. Aroma kopi pun menguasai indera penciuman dan menggugah keinginan untuk menyeruput si hitam manis itu. Setelah kopi matang ia ambil sedikit biji kopi yang berwarna kecokelatan. Ia menimbangnya, lalu menggilingnya, merebus air, menyiapkan alat saring (V 60) dan tiga cangkir kecil. Jadilah kopi saring yang kemudian kami nikmati sambil ngobrol mengelilingi meja bundar.

Dikira Kacang Hijau

Kejadian tsunami tahun 2004 yang meluluhlantakkan Aceh, ternyata membawa peluang bagi Win untuk memperluas pengetahuan tentang kopi. Pasca tsunami banyak bantuan internasional datang untuk perbaikan perekonomian di Aceh. Saat itu Win meminta kepada LSM yang menawarkan bantuan, untuk didatangkan ahli kopi. “Bantuan berupa ilmu pasti akan lebih bermanfaat, karena selama ini orang Gayo sebagai petani turun temurun hanya tahu tentang kopi seperti yang sudah ada,” ujarnya.

Dari para ahli itu Win belajar memilih lahan yang baik, memilih bibit, merawat tanaman kopi, memanen, proses pasca panen, kontrol kualitas (QC), cara menyangrai dan menyeduh yang benar, juga mempelajari rasa kopi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. “Banyak sekali alat seduh yang diperkenalkan, sehingga nggak monoton minum hanya kopi tubruk,” tuturnya.

Setelah tahu besarnya hasrat dunia luar terhadap kopi, Win tidak serta merta bernafsu mengekspor biji kopi hasil kebunnya. Ia justru bermimpi masyarakat di tanah air bisa minum kopi berkualitas. “Kalau konsumsi kopi di dalam negeri tinggi, kita tidak harus mengirim biji kopi mentah ke luar negeri, sehingga harga kopi di tingkat petani akan lebih baik,” jelasnya.

Ia pun berusaha mengedukasi masyarakat di daerahnya, tapi ternyata sulit. Akhirnya ia pergi ke Jakarta, dan sejak tahun 2008 secara intensif memperkenalkan kopi, terutama Gayo. Dulu orang tidak tahu Gayo itu ada di mana, maka Win menyebutnya kopi Aceh Gayo.

Awalnya ia datangi beberapa kafe di Jakarta untuk memperkenalkan kopi mentah. Tapi mereka tidak tahu, biji kopi yang dibawa Win malah dikira kacang hijau. Kafe-kafe itu sudah menjual minuman kopi, tetapi bubuk kopinya impor dari Amerika dan Italia. Lalu, Win membagikan biji kopi mentah (green bean) ke sejumlah kafe dan mengajarkan cara menyangrai kopi secara tradisional. 

Etalase Kopi Nusantara

Edukasi yang ia lakukan tidak lantas membuahkan hasil. Baru beberapa tahun kemudian, ketika kopi booming, para pemilik kafe yang dulu diedukasi menghubungi Win dan minta dikirim kopi Gayo. “Ini untungnya saya nggak pernah ganti nomor telepon,” katanya.

Sekarang tak kurang dari 20 ton kopi ia pasarkan setiap bulannya. Separuhnya kopi Gayo dan separuh lagi kopi dari daerah lain. Banyak petani sesama anggota AKSI (Asosiasi Kopi Spesial Indonesia) minta tolong produknya dipromosikan. Rumah Win pun menjadi etalase untuk kopi nasional. Saat ini sudah ada enam origin kopi yang ia kenalkan ke pasar, seperti kopi Toraja, Papua, Flores, dan Jawa.

Tak hanya membantu petani kopi, Win juga siap berbagi ilmu kepada tamunya. Rumahnya tak pernah sepi. Yang datang dari berbagai kalangan, ada komunitas sepeda, komunitas vespa, pekerja film, aktor, musisi, fotografer, pebisnis, ibu rumah tangga, sampai menteri. Kepada para pekerja seni itu ia titip pesan, agar mereka menyelipkan sosialisasi kopi Nusantara di dalam karya-karyanya.

Melalui edukasi itu Win berharap semakin banyak orang yang paham dan mencintai kopi, sehingga konsumsi kopi Nusantara meningkat. Ia mewanti-wanti bahwa untuk menikmati kopi yang enak, tidak harus ke kafe, tapi bisa membuat sendiri di rumah. Yang penting, tambahnya, pilih kopi murni yang baik dan seduh dengan benar. @