Jan Praba: Lukisan Kopi Bukan Barang Murahan

850
Jan Praba. Media kopi bisa menghasilkan karya lukis yang bernilai tinggi. Foto: Pras/kopifirst.com
Jan Praba. Media kopi bisa menghasilkan karya lukis yang bernilai tinggi. Foto: Pras/kopifirst.com

kopifirst.com, Air kopi maupun ampas kopi bisa menjadi media lukis yang relatif ekonomis, namun mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi. Ini sudah dibuktikan oleh Jan Praba dan sesama seniman lukis yang tergabung dalam komunitas Coffee Painter Indonesia (CPI).

Semula Jan tak mengira jika di Indonesia ternyata banyak sekali pelukis yang memanfaatkan media kopi. Pada Februari 2018, bertepatan dengan International Coffee Day, ia merilis CPI. “Begitu saya rilis di Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua, kemudian saya adakan lomba yang difasilitasi oleh museum dan Disparbud DKI, langsung pelukis-pelukis kopi dari seluruh Indonesia bermunculan,” ujarnya.

Pada November 2018 CPI menggelar pameran bersama yang pertama di Semesta Gallery, Jakarta Selatan. Kemudian pada Februari 2019 mereka kembali memamerkan karya-karya lukisan kopi di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta Barat, dengan tema Coffee in Culture and Heritage. Jan kala itu memajang lukisan berukuran besar, minimal 1m2.

“Obyek kita waktu itu budaya dan kebudayaan yang berkembang di Indonesia, karena kopi kan bagian dari budaya kita, kopi termasuk devisa negara, komoditi negara,” imbuhnya.

Jan biasa melukis dengan kopi bubuk instan yang tanpa gula. Jika kopi sudah terkena gula, akan mudah terjadi pembusukan dan lukisan cepat rusak. Lukisan kopi, menurut Jan dan juga pengalaman teman-temannya yang sudah melukis kopi sejak tahun 1980, lukisan kopi termasuk awet. Jika lukisan sudah dilapisi pernis akan aman dan tahan lama.

Dunia seni rupa sangat tertarik, karena kopi menjadi media alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan cat minyak, akrilik, dll. Apalagi bagi pelukis yang tinggal di pelosok, ketika akses untuk membeli akrilik atau cat minyak sulit dijangkau, cukup dengan kopi dan air mereka bisa tetap berkarya.

Melukis dengan kopi tak berbeda dengan media lukis lainnya. “Tinggal mengatur kekentalan saja untuk mendapatkan gradasi. Yang kental ini jadi lebih hitam, yang cair gradasinya lebih lembut. Kopi ini seperti tinta. Kadar kehitaman ini juga tergantung roasting, kalau dark atau hampir gosong ini jadinya warna hitam,” papar Jan.

Menurutnya ada banyak teknik melukis dengan kopi. Karya-karya para pelukis kopi ini memang sangat pribadi. Teknik dan gaya setiap pelukis berbeda-beda. Kopi di tangan 10 pelukis bisa menghasilkan teknik dan gaya yang berlainan.  

Kopi bisa digunakan untuk melukis pada sembarang dasar, seperti kanvas, kain, kertas. Tetapi melukis kopi di atas kanvas menghadirkan tantangan tersendiri. Yang paling aman dan mudah adalah kertas. “Hebatnya melukis dengan kopi ini kalau salah mudah dihapus pakai tangan. Asal jangan dicampur lem. Kalau dicampur lem gak bisa dikoreksi,” jelas Jan.

Bergumul dengan lukisan kopi membuat Jan tersulut untuk mencari tahu lebih banyak tentang kopi. Ia sendiri mengaku gila kopi. Sehari bisa menghabiskan tujuh cangkir kopi. “Tapi kopi murni ya, arabika atau robusta. Bukan kopi setan,” ujarnya sambil sedikit berseloroh tentang kopi sachet-an.

Minat pecinta seni terhadap lukisan kopi kini semakin banyak. Ada anggota CPI yang tinggal di Tulungagung, Jawa Timur bahkan kerap berpameran di luar negeri. Waktu pameran pertama, tutur Jan, ada pelukis yang ragu memasang harga. “Saya jelaskan ke dia bahwa memang ini biaya murah, tapi lukisan yang dihasilkan bukan barang murahan, karena kita menjual skill dan gagasan, ini harganya intangible,” ujarnya. (rin)