Ipang Telanjur Cinta Gayo

468
Ipang. Minum kopi sudah jadi kebutuhan setiap hari. Foto: Pras.
Ipang. Minum kopi sudah jadi kebutuhan setiap hari. Foto: Pras.

kopifirst.com, Musisi Ipang Lazuardi sudah lama jatuh cinta sama kopi Nusantara. Kenal kopi pertama kali dari teman kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Pilihannya waktu itu hanya kopi sachet.

Suatu kali seorang teman menyarankannya minum kopi murni. Jadilah pelantun tembang Sahabat Kecil ini mencicipi kopi luwak Bali. Kebetulan saat itu ia sedang ada di Bali. “Rasanya light, kurang strong. Mungkin karena sudah ada proses di perut binatang itu, jadi agak reduce kafeinnya, rasa asamnya berkurang,” ujar pemilik nama asli Irfan Fahri Lazuardi ini.

Sekali mencicipi kopi murni ia dibuat penasaran. Ia pun berusaha mencari tahu tentang varian kopi di Indonesia. Dari icip-icip beragam kopi itu Ipang tambah suka. Beberapa tahun terakhir ia tak pernah berpaling dari arabika Gayo. Kopi Gayo, ujarnya, memiliki rasa asam yang unik. “Rasanya tuh kaya kalau kita habis makan belimbing,” ujarnya.

Sang istri juga suka ngopi. Pasutri ini kerap menikmati kopi di sebuah kedai di pasar modern tak jauh dari rumahnya. Di kedai langganannya itu, tingkat penyangraian kopi dirasa paling pas di lidahnya. Ia selalu membeli bubuk kopi Gayo di kedai itu untuk stok. Jadi, kalau sedang tak ada waktu ke kedai atau harus ke luar kota, ia bisa menyeduh sendiri.

Ipang biasa minum kopi tubruk pahit. Kalau pun ditambah gula ia memilih gula merah. Gula putih  menurutnya akan menghilangkan rasa kopi dan terasa lengket. Ipang juga tidak suka kopi susu. Dalam sehari setidaknya empat cangkir kopi ia nikmati. Apalagi kalau sedang sibuk kerja di studio, kopi wajib ada.

Pernah ia mencoba espresso ketika ke Aceh. “Awalnya enak, tapi lama-lama gak cocok, kayanya harus buru-buru minumnya”. Bagi Ipang, ketika ngopi, waktu dan tempat sangat berpengaruh.  “Minum kopi tuh enaknya cozy, sambil ngobrol santai,” tuturnya. @