Rafi Dharmawan: Hobi Nongkrong Jadi Ide Bisnis

788
Rafi (kaus merah) berbisnis kopi dibantu teman-teman sekolahnya. Anak muda harus berani menjadi entrepreneur.
Rafi (kaus merah) berbisnis kopi dibantu teman-teman sekolahnya. Anak muda harus berani menjadi entrepreneur.

kopifirst.com, Berawal dari kegemarannya nongkrong, Rafi Dharmawan tergerak merintis usaha kafe kopi. Ia percaya, mengelola bisnis yang dibangun dari rasa suka akan lebih menyenangkan, meski tetap ada tantangan yang harus dihadapi.

“Saya sebetulnya jarang ngopi, tapi demen nongkrong sama teman-teman. Industri kopi juga sekarang bagus, jadi tertarik terjun ke bidang ini,” ujar lulusan FEB Universitas Brawijaya, Malang, tahun 2018 ini.

Lulus kuliah Rafi sempat bekerja kantoran di MNC Land. Karena tak mau terikat jam kerja (office hour), ia hanya bisa bertahan tiga bulan. Jiwa bisnisnya mendesaknya untuk membangun usaha sendiri.

Kebetulan keluarganya punya kebun jati seluas 750 meter2 di daerah Kampung Jati, Ciater, Serpong, Tangerang Selatan. Menatap jajaran pohon jati yang telah berusia 10 tahun itu mencetuskan gagasan di benak Rafi untuk membuka tempat ngopi bernuansa alam.

“Dulu rencananya pohon-pohon jati ini mau dijual, tapi saya lihat bagus dijadiin kafe kopi dengan konsep outdoor ,” ujar anak muda yang pernah belajar bisnis dengan jualan jersey sepak bola ini. Akhirnya, pada 7 September 2019 Kafe Kebun Latte mulai dibuka.

Rafi merekrut teman-teman sekolahnya di SMAN 7 Tangerang Selatan, di antaranya barista profesional. “Mereka pernah bisnis kopi tapi gak lanjut, jadi saya ajak gabung ke sini, juga baristanya yang memang bersertifikat,” jelasnya. Untuk chef dan karyawan yang lain ia merekrut dari masyarakat sekitar kafe, ada pula yang dari Jakarta dan Cilacap.

Meski berlatar pendidikan ilmu manajemen, Rafi mengaku masih harus banyak belajar tentang sistem, pengelolaan SDM dan finansial. “Saya kan belum pernah menangani usaha sebesar ini, jadi masih banyak tantangannya, masih meraba-raba SOP-nya, tapi harus berani sih,” tekadnya. Untunglah, keluarga sebagai investor utama banyak membantunya dalam mengelola kafe ini.

Ke depan Rafi ingin melakukan pengembangan produk dan juga fasilitas di kafenya. Di area belakang kebun jati ini akan dibuat area indoor. “Jadi kalau hujan, bisa lebih nyaman di dalam. Bisa untuk meeting. Rencananya nanti juga ada resto tradisional,” katanya.

Selain bar untuk meracik kopi dan dapur, saat ini di area itu sudah ada mushala, toilet bersih, dan mess untuk karyawan.  

Rafi bersyukur, sejak dibuka hingga sekarang traffic pengunjung kafenya lumayan ramai. Ia bermimpi kelak bisa mendirikan bisnis serupa di lokasi lain dan bisa memberdayakan orang-orang di sekitar tempat bisnisnya. @