Kopi Indonesia Berjaya di Mesir, Kantongi Kontrak Ekspor Sekitar Rp4,7 Triliun

241
Bambang (paling kanan) sebagai tim promosi produk pertanian Indonesia ke Mesir, seusai menandatatangani transaksi bisnis kopi senilai Rp 4,7 triliun. Foto: Dok. Pribadi
Bambang (paling kanan) sebagai tim promosi produk pertanian Indonesia ke Mesir, seusai menandatatangani transaksi bisnis kopi senilai Rp 4,7 triliun. Foto: Dok. Pribadi

kopifirst.com – Sukses besar diraih Tim Promosi Dagang Indonesia ke Kairo, Mesir.   

Ada 10 perusahaan Mesir sepakat membeli produk pertanian asal Indonesia seperti kopi dan produk olahan kelapa sawit dengan nilai transaksi Rp 4,7 triliun.

“Kesepakatan itu sudah ditandatangani melalui kontrak dagang antara pimpinan enam perusahaan agribisnis asal Mesir,” ungkap Bambang, Kepala Badan Karantina Pertanian Indonesia saat menjadi pembicara dalam Temu Wicara yang bertajuk Meningkatkan Akses Pasar Pertanian Indonesia yang digelar secara virtual belum lama ini.

Keenam perusahaan itu adalah Egyptian Mediterranean Service untuk RBD Palm Olein sebanyak 20 ribu ton per bulan.

Lalu tiga perusahaan masing-masing adalah Trade Act, Al Rehab, dan Golden Coffee Bean, dengan total impor kopi dari Indonesia sebesar 9.440 ton di tahun 2022. 

International for Trading and Import Tax memesan kopi robusta dan arabika asal Indonesia dengan berbagai tingkatan atau level mutu sebanyak 2.400 ton per tahun. 

Sedangkan satu perusahaan lainya, CV Mabrouk memesan kopi khusus asal Batu, Malang, Jawa Timur,  dengan total pemesanan 240 ton di tahun 2022.

“Mereka berminat dengan kopi dan produk olahan kelapa sawit berupa RBD palm olien asal Indonesia,” tutur Bambang yang sebelumnya sempat menjabat Direktur Jenderal Perkebunan tersebut.

Temu Wicara yang digelar secara hybrid ini dihadiri langsung oleh 87 pelaku usaha Mesir dan 24 pelaku usaha asal Indonesia yang hadir secara daring.

Saat itu, Bambang hadir bersama dengan Mohamed Abdelrahman Baraka, Direktur Baraka Contracting & Trading Co, yang membagikan kisah suksesnya berbisnis dengan pengusaha Indonesia.

“Berbisnis dengan pelaku usaha di Indonesia membawa berkah, saya tidak pernah ditipu dan regulasi pemerintahmya pun jelas,” kata Baraka.

Baraka bercerita bahwa dirinya  sudah hampir satu dekade berbisnis industri karet berupa ban dengan Indonesia. 

Kini, dia berencana akan menginvestasikan dananya sebesar US$600 juta untuk budi daya kapas dan olahannya.

Suatu alasan yang dikemukannya, mengapa begitu betah berbisnis dengan Indonesia, harga komoditas pertanian di Indonesia relatif  kompetitif ketimbang  Tiongkok.

Kualitas  produk pun tak mengecewakan dan memenuhi permintaan pasar, baik, dan terus terjaga. 

“Buat saya, Indonesia adalah negara kedua bagi saya dan saya sudah melihat potensi yang besar pada pertaniannya,” ujarnya.

Sementara itu Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, yang turut menyaksikan penandatanganan kesepakatan ini, mengaku senang dan berjanji akan mengawal komitmen dagang ini dengan pelaku usaha di daerahnya.

“Semoga ini menjadi jalan bagi kopi asal Batu, Malang, Jawa Timur yang memiliki rasa yang khas di pasar global,” ujarnya. ***