Kementan Sebar 135 Juta Batang Bibit Kopi Unggul Guna Tingkatkan Produksi Kopi Petani

716

kopifirst.com, Kementerian Pertanian (Kementan) akan menyebarkan 135 juta batang bibit kopi unggul kepada para petani di seluruh Tanah Air dalam lima tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian Dedi Junaedi dalam acara Silaturahmi dan Bincang-Bincang Kopi yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, belum lama ini.

“Pembagian 135 juta batang bibit kopi unggul merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kopi di Tanah Air,” tutur Dedi.

Berdasarkan data yang dirilis International Coffee Organization (ICO), Indonesia menjadi negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Dari segi produktivitas, Indonesia kalah dari Vietnam. Sebagai pembanding, petani kopi Vietnam mampu menghasilkan rata-rata 3 ton per hektare dalam sekali panen, sedangkan petani kopi Indonesia rata-rata hanya menghasilkan 600 kilogram per hektare.

“Agar Indonesia mampu bersaing di pasar global, kita harus meningkatkan produksi.”

“Pemberian bibit unggul kopi merupakan salah satu upaya dari untuk meningkatkan produksi kopi petani kita.”

“Bibit unggul itu akan disebar sentra-sentra produksi dan regulasi petani akan mendapatkannya akan dipermudah untuk mendapatkannya,” ujar Dedi.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian Dedi Junaedi (kedua dari kiri) dan Ketua Dewan Kopi Indonesia Anton Apriyantono (ketiga dari kiri) jadi narasumber dalam acara Bincang-Bincang Kopi yang dimoderatori Sekretaris Jenderal Coffee Lovers Indonesia (CLI) Jamil Mussanif (kedua dari kanan). Foto : Wisesa/kopifirst.com

Sementara Ketua Dewan Kopi Indonesia Anton Apriyantono menyatakan, harga jual kopi saat ini dipengaruhi pasar dunia sehingga ketika harga turun maka petani mengalami kerugian.

Dia menyarankan agar petani Indonesia untuk menanam kopi specialty jenis arabika yang harganya tidak dipengaruhi pasar dunia sehingga bisa memberikan keuntungan pada petani.

“Sayangnya, kopi yang diproduksi di Indonesia sekitar 70 hingga 75 persen merupakan kopi robusta,” ujarnya.

Dia juga meminta pemerintah untuk memangkas tata niaga kopi di Indonesia sehingga petani bisa mendapatkan margin harga yang lebih baik.

“Tata niaga kopi di Indonesia mesti diperpendek dan mendekatkan antara hulu dengan hilir,” pungkas mantan Menteri Pertanian tersebut. (Jos)